RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI
Pengambilan
Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Di
susun oleh Abdul Rohman CGP Angkatan 11 Kabupaten Tegal
Guru SD Negeri
Wotgalih 01 Jatinegara Kab.Tegal
Dalam
uraian berikut ini saya membahas tentang Koneksi Antar Materi Modul 3.1 terkait
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam Tugas ini terdapat
10 pertanyaan yang akan saya coba membahasnya satu persatu.
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Filosofi
Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar
dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa
sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik
kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan
karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa
dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil
keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong
yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi
Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.
Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Setiap
guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif dan keyakinan yang sudah tertanam
dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk
menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Nilai-nilai
yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang
tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut
merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang
menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan
rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada
dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita
berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.
Keputusan
tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang
dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan
kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang
mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.
Nilai-nilai
positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid
adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional
kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan
berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk
meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.
Bagaimana
kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam
menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita
maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita
dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila
dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Pembimbingan
yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu
saya berlatih merefleksikan, dan mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil.
Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan
nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut
akan dapat saya pertanggung jawabkan. Dengan refleksi tersebut saya menjadi
lebih mengetahui apa saja yang harus saya pertahankan, dan saya kembangkan
lebih baik lagi.
TIRTA merupakan model coaching
yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru
untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan
coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan
dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini.TIRTA akronim dari :
T
: Tujuan I :
Identifikasi R : Rencana
aksi TA :
Tanggung jawab
1.
Tujuan
Coaching
dengan metode Tirta diawali dengan menetapkan tujuan. Pada tahap ini
masing-masing pihak (coach dan coachee) telah menyepakati tujuan pembicaraan
yang akan dilaksanakan.
Beberapa
hal yang dapat ditanyakan pada tahap tujuan adalah rencana pertemuan, tujuan
dari pertemuan, serta ukuran keberhasilan dari pertemuan yang akan
dilaksanakan.
2.
Identifikasi
Coach
akan melakukan pemetaan situasi atau masalah dan menghubungkannya dengan fakta
yang ada. Pada tahap ini, coachee dapat mengemukakan kekuatan dan kelemahannya
dan mampu mengambil solusi jalan pemecahannya.
3.
Rencana Aksi
Rencana
aksi adalah rancangan kegiatan yang akan dilakukan sebagai solusi dari suatu
permasalahan. Pada tahap ini, coachee dapat menyampaikan strategi untuk
menyelesaikan masalahnya.
4.
Tanggung Jawab
Pada
tahap akhir, coachee membuat komitmen atas hasil yang dicapai. Hasil tersebut
kemudian dijadikan acuan untuk mengambil dan menentukan langkah selanjutnya.
Pelaksanaan coaching dengan metode
Tirta hampir mirip dengan teknik IGROW (Intention, Goal, Reality, Option, dan
Will)
Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Sebagai
seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya
belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan
pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing.
Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan
murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan
agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan
dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas
maupun di sekolah.
Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat
tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap
permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari
berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah
permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.
Seorang
pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral
dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai
yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam
mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif
maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan
dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan
kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung
hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu
bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri,
inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan
mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat
sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan
yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan
keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya
dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara
akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah
tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua
kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Selanjutnya,
apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah
perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena
masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama
bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk
memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid.
Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan
keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa
sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses
pelaksanaan pengambilan keputusan.
Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan
keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid
kita?
Menurut pendapat saya, semua tergantung kepada
keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak
kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan
sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka
hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid
dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila
keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian
dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong
belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan
kondratnya.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan
pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat
dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif
, inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka
sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang,
penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi
kehidupan dan pekerjaannya.
Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi
ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa
kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya
apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi
berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak
kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan
terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar
murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan
diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini
yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :
Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi yang
harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar
Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya
positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus
memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju
profil pelajar pancasila.
Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila,
ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan
langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan
suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya
merdeka belajar.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang
telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar
dugaan?
Konsep dilema etika dan bujukan moral adalah sebuah
konsep praktis yang aplikasinya adalah pengambilan keputusan dalam kaitannya
sebagai pemimpin yang berbasis nilai nilai kebajikan.
Dalam pengaplikasiannya, diperlukan identifikasi yang
jeli, jelas dan mendetail dalam mengenali kedua hal ini.
Identifikasi mendalam diarahkan pada 4 paradigma
masalah, 3 prinsip mengatasi masalah serta 9 langkah pengujian keputusan. Hal
hal diluar dugaan yang terjadi adalah, ternyata hal hal tersebut telah
dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari, hanya saja belum maksimal dan
sistematis sehingga terkadang masih terdapat benturan dalam
pelaksanaannya.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda
menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema?
Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini, tanpa sadar kami telah
menerapkan mengambil keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema etika,
hanya saja bedanya kami belum menerapkan semua langkah 4 paradigma, 3 prinsip
dan 9 langkah pengujian keputusan. Setelah mempelajari modul ini saya menjadi
lebih berhati-hati, lebih tenang, dan lebih mempertimbangkan banyak hal
dalam mengambil keputusan.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini
buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil
keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak yang sangat positif tentunya, dengan
mempelajari modul ini sehingga kita mampu mengidentifikasi antara dilema etika
dan bujukan moral, dan tentunya mampu untuk mengatasinya.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda
sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Dengan begitu pentingnya materi ini baik sebagai
individu maupun sebagai pemimpin, sehingga tentunya materi ini sangat
diperlukan bagi calon calon pemimpin dalam pembelajaran.
Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Banyak kekurangan saya mohon maaf, semoga bermanfaat. Terima kasih
sangat menginspirasi
ReplyDeleteMateri yang bagus pak. Jadi tambahan pengetahuan tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
ReplyDelete